Pernahkah kamu melihat seorang teman tiba-tiba menjadi pendiam di kelas atau menarik diri dari pergaulan setelah mengunggah sesuatu di media sosial? Di balik layar ponsel yang kita genggam, ada badai yang sering kali tidak terlihat. Di zaman sekarang, perundungan tidak lagi membutuhkan otot atau teriakan di lapangan sekolah. Cukup dengan beberapa ketukan jari yang tajam, mental seseorang bisa runtuh dalam sekejap.
Banyak orang berdalih bahwa komentar negatif yang mereka lempar hanyalah sebatas “iseng” atau “bercanda”. Namun, fakta dari UNICEF Indonesia mengungkap realita yang pahit: sekitar 45% remaja kita pernah mengalami perundungan digital. Masalahnya, ejekan di internet itu abadi. Ia bisa dibaca berulang kali, disebar, dan sangat sulit dihapus. Inilah yang membuat luka mentalnya sering kali lebih dalam daripada luka fisik.
Tokoh literasi digital, Najwa Shihab pernah memberikan pesan yang sangat menohok bagi pengguna media sosial:
“Internet itu panggung publik. Apa yang kita tuliskan di sana adalah cermin dari cara kita berpikir dan bersikap. Jangan biarkan jempolmu menghancurkan masa depan yang sedang kamu bangun susah payah.”
Kita mungkin pernah mendengar cerita tentang siswa yang sampai takut masuk sekolah hanya karena foto pribadinya dijadikan bahan ejekan (meme) di grup percakapan. Pelakunya mungkin tertawa, tapi korban merasa dunianya seolah runtuh. Inilah alasan mengapa kita harus berhenti menjadi penonton yang diam. Jika kita melihat perundungan, jangan ikut tertawa, apalagi ikut membagikan. Lindungi temanmu, karena satu kata dukungan darimu bisa menyelamatkan harinya.
Dunia digital akan jauh lebih indah jika kita mengisinya dengan dukungan, bukan makian. Ingat, ada manusia nyata dengan perasaan yang tulus di balik akun yang kamu komentari. Mari buat lingkungan sekolah kita di Batam ini menjadi pelopor ruang digital yang aman dan nyaman untuk semua.